Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
PENANDATANGANAN Memorandum Saling Pengertian (MoU) Islamabad pada 17 Juni 2026, yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran sesungguhnya bukan fajar baru bagi perdamaian di Timur Tengah.
Dokumen yang diteken secara jarak jauh oleh Presiden Donald Trump dan Presiden Masoud Pezeshkian ini hanyalah sekadar jeda taktis dalam perang yang dianggap memang sudah melelahkan.
Kesepakatan ini lahir di tengah desakan kebutuhan ekonomi yang mencekik, baik di Iran maupun Ameirka alias bukan dari keinginan tulus untuk benar-benar menghentikan permusuhan.Konflik yang meletus sejak 28 Februari 2026, telah menyeret kawasan ke ambang kehancuran. Perang ini dipicu oleh serangan mematikan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei serta negosiator kunci Ali Larijani.







