DEARBORN, KOMPAS.com – Produsen otomotif terkemuka asal Amerika Serikat (AS), Ford, mempekerjakan kembali ratusan insinyur manusia setelah teknologi kecerdasan buatan (AI) yang diimplementasikan perusahaan gagal menyamai keterampilan serta pengalaman para pekerja veteran.

Sebelumnya, demi meraup berbagai manfaat dari kecerdasan buatan—yang diklaim oleh para pengembang mampu memangkas biaya sekaligus meningkatkan produktivitas—Ford mengadopsi teknologi ini di beberapa bagian operasinya, termasuk untuk pemeriksaan kualitas kendaraan.

Namun, melansir laporan dari Bloomberg, jajaran eksekutif Ford mengungkapkan, perusahaan mempekerjakan kembali lebih dari 300 inspektur kualitas "veteran" dalam beberapa tahun terakhir, guna menutupi kekurangan pada sistem otomatisasi tersebut.Baca juga: Ketika Perang Iran Redupkan Ambisi AI Abu Dhabi...

"Kecerdasan buatan adalah alat yang fantastis, tetapi hanya sebaik informasi yang Anda gunakan untuk melatihnya," ujar Charles Poon, Wakil Presiden Teknik Perangkat Keras Kendaraan Ford, dikutip dari BBC, Selasa (29/6/2026).

Poon mengakui adanya kekeliruan dalam strategi pemanfaatan teknologi sebelumnya.