JAKARTA, KOMPAS.com - Para ekonom memberikan penjelasan dari anomali ekonomi yang disorot Presiden Prabowo Subianto bahwa perekonomian Indonesia terus tumbuh tetapi jumlah masyarakat miskin justru bertambah.
Menurut para ekonom, kondisi tersebut terjadi karena pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tecermin dalam produk domestik bruto (PDB) tidak otomatis menunjukkan pemerataan pendapatan maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufiqurrahman mengatakan, PDB hanya mengukur besarnya aktivitas ekonomi, bukan bagaimana hasil pertumbuhan itu didistribusikan kepada masyarakat."Karena itu, ekonomi dapat tetap tumbuh, sementara sebagian masyarakat belum merasakan peningkatan pendapatan atau bahkan mengalami penurunan daya beli," ujar Rizal kepada Kompas.com, Kamis (25/6/2026).
Baca juga: Prabowo Mau Swasembada Berkelanjutan, Bulog Siap Perkuat Cadangan Beras
Rizal mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin justru mengalami penurunan dari 24,06 juta orang (8,57 persen) pada September 2024, menjadi 23,36 juta orang (8,25 persen) pada September 2025.








