Penulis: Cathrin Schaer/DW Indonesia

BEIRUT, KOMPAS.com - "Sebuah kemenangan besar” dan "titik balik penting bagi Lebanon.” Begitulah pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menggambarkan nota kesepahaman yang menghentikan pertempuran antara Iran dan Amerika Serikat (AS) pekan ini.Qassem juga berterima kasih kepada Iran karena telah "menghubungkan arena Lebanon” ke dalam kesepakatan tersebut dan "memaksa Israel menghentikan agresinya”.

Hizbullah didirikan pada 1982 atas dukungan Iran, dengan tujuan mengakhiri pendudukan Israel di Lebanon selatan.

Organisasi ini memiliki sayap militer dan politik serta mendapat dukungan dari sebagian besar komunitas Muslim Syiah di Lebanon.

Kini Hizbullah menjadi kekuatan besar dalam kehidupan sosial dan politik Lebanon, bahkan kerap disebut sebagai "negara di dalam negara”, karena punya angkatan bersenjata sendiri.