Jakarta - Perundingan putaran pertama antara Amerika Serikat dan Iran di Bürgenstock, Swiss, telah selesai digelar. Mediator dari Qatar dan Pakistan menyebut kedua pihak mencapai kemajuan dalam pembahasan dan menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari ke depan."KTT Danau Lucerne berlangsung secara positif dan konstruktif. Ada kemajuan tentang kesepakatan untuk pembicaraan teknis lanjutan," tulis pernyataan bersama yang dirilis Kementerian Luar Negeri Pakistan pada Senin (22/6).Mediator mengatakan kedua delegasi juga sepakat membentuk "Komite Tingkat Tinggi yang akan memberikan pengawasan politik selama proses mediasi."
"Para kepala negosiator akan melapor secara berkala kepada Komite Tingkat Tinggi dan memimpin kesepakatan isu nuklir, sanksi, serta kelompok pemantauan dan penyelesaian sengketa untuk memastikan MoU berjalan efektif, juga menangani berbagai isu lainnya," tulis pernyataan tersebut.Kedua pihak juga menyepakati peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari. Setelah itu, "pembicaraan teknis" akan menyusul. Sementara, pembicaraan teknis dijadwalkan berlanjut hingga akhir pekan ini.Hormuz dan Lebanon masuk dalam isi perjanjian"Jalur komunikasi antara kedua pihak telah disebutkan dalam paragraf 5 MoU. Hal ini dilakukan guna menghindari insiden dan kesalahpahaman, serta menjamin kelancaran pelayaran kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz," bunyi pernyataan tersebut.Delegasi kedua negara juga membentuk sebuah unit koordinasi untuk mencegah eskalasi konflik (de-confliction cell) yang melibatkan kedua pihak, Republik Lebanon, dan para mediator. Mekanisme kordinasi ini digunakan "untuk memastikan penghentian operasi militer di Lebanon dipatuhi sesuai dengan MoU."Menyusul tercapainya kesepakatan tahap awal ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan di platform X bahwa, "Mediasi Pakistan dan Qatar telah menghasilkan kemajuan besar untuk mengakhiri perang di Lebanon.""Ekspor minyak dan petrokimia dibebaskan, blokade dicabut, sebagian aset yang dibekukan dilepaskan, dan rencana besar rekonstruksi serta pembangunan diluncurkan untuk Iran," tambah Araghchi.Ketegangan sempat berlangsung di tengah perundinganSebelumnya, di tengah berlangsungnya perundingan, ketegangan antara AS dan Iran masih terlihat melalui pernyataan para pejabat kedua negara.Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengatakan AS dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran."Iran harus segera menghentikan kelompok proksinya di Lebanon yang dibayar mahal untuk menimbulkan masalah. Jika tidak, kami akan menyerang Iran dengan sangat keras lagi, seperti yang kami lakukan pekan lalu, bahkan lebih keras!" tulis Trump di platform Truth Social.Ketua tim negosiasi Iran sekaligus Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mengancam Iran di tengah berlangsungnya perundingan."Apakah mereka tidak berpikir: jika ancaman mereka efektif, mereka tidak akan berada dalam kondisi terdesak seperti sekarang? Kami tidak memperhitungkan ancaman Amerika," tulis Ghalibaf di platform X."Mereka sebaiknya berhati-hati dengan pernyataan mereka. Angkatan bersenjata kami siap merespons dengan cara yang berbeda. Apa pun yang mereka katakan, kamilah yang bertindak," lanjutnya.Iran menuntut sekutu AS, Israel, menghentikan invasinya ke Lebanon selatan sebagai bagian dari negosiasi damai dengan AS.Sebelum perundingan damai di Swiss dimulai, Iran dan Amerika Serikat telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang mengatur bahwa kedua pihak harus "menahan diri untuk mengancam atau menyerang satu sama lain."Israel tidak akan tarik pasukan dari LebanonDi sisi lain, dalam proses perundingan, Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan."Tidak ada pembatasan bagi tentara Israel di Lebanon untuk bertindak saat ada ancaman. Seperti yang telah dikatakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan saya, pasukan Israel tidak akan menarik diri dari zona keamanan Lebanon," kata Katz dalam sebuah pernyataan.Zona keamanan sendiri membentang sekitar 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon. Karenanya, Israel berada di kawasan tersebut untuk melindungi wilayah utara negaranya dari kelompok Hizbullah. Kelompok ini juga didukung oleh Iran.Sementara itu, pemerintah Lebanon menganggap keberadaan pasukan Israel di Lebanon selatan merupakan kontrol militer. Hizbullah juga mengklaim telah melawan pasukan Israel yang berupaya memperluas kendali di wilayah tersebut.Iran mengatakan tidak akan menyetujui kesepakatan lanjutan dengan Amerika Serikat sebelum konflik di Lebanon berakhir. Sebagai respons atas ketegangan Lebanon, Iran juga mengklaim telah menutup Selat Hormuz.Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa InggrisDiadaptasi oleh Felicia SalvinaEditor: Tezar Aditya RahmanTonton juga video "Hasil Mediasi AS-Iran di Swiss: Sepakati Roadmap 60 Hari Akhiri Konflik"














