PADA Rabu sore, 17 Juni 2026, di Jalan Medan Merdeka Selatan, sekelompok mahasiswa mengenakan baret merah bol kuning berdiri di antara hiruk-pikuk Monas sambil memanggul tiga salib merah.
Satu salib besar di tengah, dua lebih kecil di kiri dan kanan ditempeli potret Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sebuah pemandangan yang tak biasa ditemui di trotoar Ibu Kota, dan memang memiliki maksud tersendiri.
Begitu foto aksi itu menyebar, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Jakarta Pusat langsung memantik perdebatan yang lebih ramai daripada substansi yang sebenarnya mereka bawa.
Untuk memahami mengapa PMKRI memilih bahasa salib dalam berpolitik, ada baiknya kita menengok akar historisnya.
Organisasi ini lahir di Yogyakarta pada 25 Mei 1947, hasil fusi antara Federasi Katholieke Studenten Vereniging dan Perserikatan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Yogyakarta yang resmi disepakati pada 11 Juni 1951.






