Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax menyumbang inflasi 0,25%. Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengatakan ada dua faktor yang dapat memicu kenaikan inflasi, yakni imported inflation dan prediksi faktor cuaca ekstrem seperti El Nino.Menurut Aida, secara langsung, kedua faktor tersebut berdampak pada kenaikan harga yang sudah ditentukan pemerintah, seperti kenaikan harga BBM nonsubsidi."Ada yang naik, seperti Pertamax dan Pertamax Turbo, tetapi ada juga yang turun, yaitu Dexlite dan Pertamina Dex, tentunya ini akan berfluktuasi tergantung dari harga global tadi. Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25% kepada inflasi," ujar Aida dalam hasil rapat dewan gubernur yang disiarkan secara daring, Kamis (18/6/2026).

Kedua, faktor risiko inflasi ini juga berdampak pada harga-harga komoditas yang bergejolak atau volatile food, seperti harga pupuk. Namun, Aida memprediksi harga pupuk hanya berkontribusi kecil pada inflasi. Melihat hal itu, Aida memprediksi terjadi kenaikan inflasi, tapi masih dalam terkendali."Dengan hal itu semua, memang proyeksi inflasi ini mulai mengalami peningkatan, tetapi semuanya masih dalam target 2,5 plus minus 1%, jadi paling tinggi kita 3,5% ini masih dalam target tersebut," jelas Aida.Sementara, Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali mengatakan pada Mei, inflasi Indonesia secara tahunan mencapai 3,08%. Menurutnya, angka tersebut masih dalam kendali yang ditetapkan.Kendati demikian, ia tak menampik dari sisi volatile food mengalami peningkatan cukup tinggi 6,24% secara tahunan."Volatile food ini yang merupakan sangat terasa terutama di daerah-daerah. Kita mencermati bahwa sejumlah faktor risiko dapat memberikan tekanan inflasi ke depan seperti tadi yang disampaikan oleh Bu Aida bahwa adanya imported inflation dan kedua adanya faktor cuaca," ujar Ricky.Berdasarkan pantauan BI, pada Mei 2026 ini, inflasi di 25 provinsi masih berada dalam rentang sasaran. Namun demikian, terdapat 13 provinsi dipantau secara khusus karena sudah mulai bergerak ke atas di daerah sasaran."Misalnya seperti di Papua Barat 5,94 persen, kemudian di Aceh 5,12 persen. Tekanan inflasi yang berasal dari beberapa faktor tersebut ini mengakibatkan harga dari komoditas pangan hortikultura, seperti cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit mengalami kenaikan. Khusus yang kedua mengenai terkait risiko El Nino, kita lihat bahwa intensitas El Nino ini diperkirakan akan meningkat," terang Rocky.