SAAT ini terjadi banyak perubahan perilaku konsumen.
Apabila beberapa tahun lalu restoran selalu penuh pada akhir pekan dan gerai ritel ramai oleh pembeli yang membawa banyak kantong belanja, kini suasananya berbeda.Pengunjung masih datang, tetapi lebih banyak yang sekadar melihat-lihat, membandingkan harga, atau berburu diskon.
Tidak sedikit yang memilih membawa bekal dari rumah, membatalkan langganan hiburan digital tertentu, atau menunda pembelian barang yang sebenarnya mereka inginkan.
Perubahan perilaku tersebut bukan sekadar tren sesaat, melainkan refleksi dari kondisi ekonomi yang sedang dihadapi oleh kelompok kelas menengah di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi nasional menghadapi tekanan yang semakin besar.









