KOMPAS.com - Demam prediksi pemenang Piala Dunia 2026 memiliki pemain baru. Jika pada 2010 publik dihebohkan oleh aksi Paul si Gurita yang meramal pemenang lewat wadah makanan berbendera, kini giliran teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif yang unjuk gigi.

Fenomena ini terbilang baru. Saat Argentina mengangkat trofi di Qatar pada 2022, ChatGPT milik OpenAI baru saja dirilis ke publik dan belum banyak dilirik di luar Silicon Valley.

Namun, kini di tengah gelaran Piala Dunia 2026, berbagai lembaga mulai dari perbankan hingga universitas berbondong-bondong menguji kemampuan prediksi sepak bola dari sistem AI generatif tersebut.Baca juga: Piala Dunia 2026 Dimulai dengan Hambar di AS, Kalah Pamor dari Basket

Menariknya, AI ini menunjukkan preferensi berbeda-beda dan cenderung "nasionalis" berdasarkan wilayah pengembangannya.

Dalam uji coba yang dilakukan oleh situs berita teknologi Decrypt, chatbot asal Barat seperti ChatGPT dan Claude (buatan Anthropic) kompak menjagokan Spanyol.