KENAIKAN harga BBM dan pelemahan nilai tukar rupiah tidak dapat dibaca sebagai peristiwa ekonomi biasa.

Keduanya bukan sekadar urusan harga minyak dunia, tekanan dolar AS, atau mekanisme pasar.Dalam kehidupan sehari-hari, BBM dan rupiah menentukan ongkos transportasi, harga pangan, biaya produksi UMKM, daya beli buruh, pendapatan pekerja informal, hingga ketahanan ekonomi rumah tangga miskin dan kelas menengah bawah.

Per 10 Juni 2026, Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green 95 dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.

Penyesuaian ini berlaku untuk BBM nonsubsidi, sementara harga Pertalite dan Solar subsidi tetap dipertahankan.

Pada saat yang sama, rupiah juga berada dalam tekanan. Data JISDOR Bank Indonesia menunjukkan rupiah berada di Rp 18.171 per dolar AS pada 8 Juni 2026, setelah sebelumnya bergerak melemah di atas level psikologis Rp 18.000 per dolar AS (Bank Indonesia, 2026).