JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah narasi pemerintah soal fundamental ekonomi Indonesia masih solid, pasar menunjukkan sinyal berbeda. Nilai tukar rupiah terperosok hingga Rp 18.200 per dollar AS, sementara IHSG ambruk lebih dari 4 persen.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan: jika ekonomi masih kuat, mengapa aset-aset Indonesia justru terus ditinggalkan pasar?Pelemahan rupiah dan kejatuhan pasar saham terjadi secara bersamaan ketika investor global meningkatkan kewaspadaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.Untuk diketahui, nilai tukar rupiah di pasar spot terus tertekan pada perdagangan Senin (8/6/2026).

Hingga pukul 13.48 WIB, mata uang Rupiah terdepresiasi 165 poin atau 0,91 persen ke level Rp 18.201 per dollar AS.Kurs rupiah memang melemah sejak pembukaan perdagangan hari ini, sebelumnya makin terperosok lebih dalam, kurs rupiah sempat bertengger di posisi Rp 18.170 per dollar AS atau terkoreksi 134 poin, setara 0,75 persen.

Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 242,16 poin atau 4,33 persen ke area 5.352,61, mendekati posisi terendah di 5.346,34. Penurunan ini terjadi tak berselang lama pembukaan pasar sesi kedua, Senin siang ini.Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, menilai tekanan yang terjadi saat ini tidak semata-mata dipicu arus keluar dana asing, melainkan juga meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia atau country risk.Tekanan yang terjadi pada pasar keuangan menunjukkan investor mulai memberikan premi risiko yang lebih tinggi terhadap Indonesia.