Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong skema imbal dagang alias barter dalam ekspor dan impor barang. Skema barter ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan (MoU) antara PT Trade Barter Indonesia (TBI) selaku agen barter Indonesia dengan pelaku usaha Filipina.Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan Indonesia akan impor komoditas serat abaka yang akan diolah menjadi tekstil oleh perusahaan anggota Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI). Kemudian hasilnya akan diekspor kembali ke Filipina."Dan hari ini kita menyaksikan penandatanganan antara pelaku usaha Indonesia dan Filipina dengan sistem barter. Jadi, kita impor serat abaka ini untuk bahan baku tekstil," ujar Budi dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).

Tak hanya serat abaka, kerja sama itu juga turut mengimpor bijih besi atau iron ore dari Filipina. Bijih besi tersebut akan diolah oleh grup Krakatau Steel dan akan diekspor kembali ke Filipina.Budi menerangkan sistem barter ini tidak menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini dikarenakan setiap negara mempunyai agen barter masing-masing sebagai fasilitator."Setelah diproses dari grup Krakatau Steel, kemudian bajanya kita ekspor ke Filipina. Ini sistem barter, jadi kita tidak menggunakan mata uang dolar. Karena nanti masing-masing negara mempunyai agent yang memfasilitasi," tambah Budi.Penandatanganan MoU ini berpotensi menghasilkan transaksi mencapai US$ 350 juta atau setara Rp 6,33 triliun (kurs Rp 18.100). Terdapat dua MoU imbal dagang tripartit, atau yang masing-masing melibatkan tiga pihak, dalam penandatanganan hari ini. MoU pertama adalah perjanjian Asian Pyrochem Technologies dari Filipina bersama PT Trade Barter Indonesia dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia. Ketiga pihak menyepakati pertukaran serat abaka mentah dengan produk tekstil jadi senilai US$ 50 juta per tahun.Sementara itu, MoU kedua adalah perjanjian Asian Pyrochem Technologies bersama PT Trade Barter Indonesia dan PT Krakatau Global Trading. Ketiga pihak menyepakati pertukaran produk baja dengan bijih besi asal Filipina untuk memenuhi kebutuhan produksi Krakatau Steel senilai US$ 300 juta per tahun.Budi menekankan pemerintah terus berupaya agar meningkatkan ekspor sekaligus mengatasi pelemahan rupiah. Sistem barter ini menjadi salah satu upaya merealisasikan hal tersebut dan tidak bergantung pada mata uang asing."Jadi, ini salah satu solusi sebenarnya ya bagaimana pertama kita meningkatkan ekspor kita dan bagaimana kita dengan barter ini kan tidak tergantung mata uang asing," jelasnya.