Jakarta - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto mengungkapkan produksi minyak nasional sempat tertekan pada awal tahunHal ini terjadi karena adanya gangguan operasional di Blok Cepu yang dioperasikan ExxonMobil Cepu Ltd dan di wilayah Pertamina Hulu Rokan (PHR).Berdasarkan data SKK Migas per 31 Mei 2026, realisasi produksi minyak, kondensat, dan NGL ExxonMobil Cepu Ltd. baru mencapai 129.915 BOPD. Sementara produksi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sebesar 131.040 BOPD.

Djoko mengatakan kedua penyumbang produksi minyak nasional tersebut masih berada di bawah target yang ditetapkan dalam APBN 2026. Di mana dalam target APBN 2026 ditetapkan sebesar 163.859 BOPD untuk PHR dan 148.500 untuk ExxonMobil Cepu Ltd."Untuk Pertamina Hulu Rokan dan Cepu, ini yang penurunanya belum mencapai target dari APBN. Dari target 163 ribu realisasinya 130.000, atau sekitar 32.000 di bawah target, atau 80%" ujar Djoko dalam RDP dengan Komisi XII DPR, Rabu (3/6/2026).Djoko menyampaikan penurunan produksi di PHR terjadi karena adanya gangguan pada pembangkit listrik Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) yang menopang operasi lapangan. Ia mengatakan saat ini tengah dilakukan perbaikan."Nah yang Rokan itu problemnya sekarang perbaikan listrik MCTN. Nah janjinya kan akhir Juli, tapi kita mau push pertengahan Juli selesai," ujarnya.Djoko menambahkan untuk Blok Cepu permasalahannya pada reservkir yang mengakibatkan produksi minyak turun lebih cepat dari perkiraan pasca pengeboran."Untuk Cepu ini permasalahan reservoir, di mana dari pengeboran yang setelah dilakukan, begitu cepat penurunan minyaknya, yang keluar adalah saat ini kebanyakan air dan gas," ujarnya.Ia mengatakan saat ini tengah dilakukan evaluasi untuk mencari teknologi apa yang bakal digunakan. Hal ini guna menjaga produksi minyaknya."Lagi dievaluasi teknologi apa kira-kira yang bisa tetap menjaga atau bahkan mencapai target produksi di tahun ini sekitar 148 ribu ya, sekarang kan 130 ribuan," katanya.