KOMPAS.com - Tiga dekade setelah badai mematikan tahun 1996 yang menewaskan delapan pendaki di Gunung Everest, sebuah peristiwa pilu yang diabadikan dalam buku terlaris Jon Krakauer Into Thin Air, wajah gunung tertinggi di dunia itu kini telah berubah total.
Teknologi mutakhir dan bangkitnya generasi baru operator lokal Nepal telah mentransformasi industri pendakian.
Namun, para pakar memperingatkan bahwa ancaman terbesar di Gunung Everest saat ini bukan lagi cuaca ekstrem yang tidak dapat diprediksi, melainkan kelebihan muatan pendaki, turis yang tidak berpengalaman, dan maraknya operator pendakian murah yang memotong anggaran keselamatan.Fenomena ini terbukti dari rekor baru yang tercipta baru-baru ini, di mana dalam satu hari saja, sebanyak 274 pendaki Everest berhasil mencapai titik tertinggi di bumi secara bersamaan.
Baca juga: Skema Pendaki Bawa Turun Sampah Dinilai Gagal di Gunung Everest
Kilas balik tragedi Mei 1996













