Teheran -
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintahannya tidak mengambil keputusan tanpa persetujuan pemimpin tertinggi Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei.Hal ini disampaikan Pezeshkian, seperti dilansir Press TV, Senin (25/5/2026), saat Iran dan Amerika Serikat (AS), yang melakukan perundingan tidak langsung dengan dimediasi Pakistan, dilaporkan semakin dekat untuk memfinalisasi nota kesepahaman yang bertujuan mengakhiri perang."Tidak ada keputusan di Republik Islam Iran yang akan diambil di luar kerangka Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) dan tanpa koordinasi serta izin dari pemimpin (tertinggi)," tegas Pezeshkian saat berbicara dalam pertemuan dengan kepala dan manajer Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB). "Ketika sebuah keputusan diambil di bidang diplomasi, semua institusi, platform, dan gerakan harus mendukungnya sehingga suara yang tunggal dan koheren dapat disampaikan kepada dunia dari Republik Islam," ucapnya. Pezeshkian juga menyebut bahwa salah satu tujuan utama musuh Iran selama perang adalah membungkam suara kebenaran. Dia menyinggung soal sentimen anti-Iran, yang disebutnya tanpa malu-malu mengharapkan AS dan rezim Zionis, sebutan untuk Israel, untuk menghancurkan dan memecah-belah Iran."Jika kita semua bergerak bersama dalam kerangka (yang ditentukan oleh) pedoman Pemimpin (Tertinggi) dan menjaga solidaritas nasional, musuh tidak akan pernah mencapai tujuan mereka terhadap negara kita," cetusnya.Pernyataan Pezeshkian ini disampaikan saat laporan media internasional, terutama media AS seperti New York Times (NYT) dan Axios, menyebut Washington dan Teheran semakin dekat untuk menandatangani kesepakatan yang mengatur perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz.Informasi soal potensi kesepakatan yang dilaporkan media-media Barat itu sebagian besar disampaikan dari sudut pandang para pejabat AS. Otoritas Iran sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi apa pun.













