SEMARANG, KOMPAS.com — Komunitas Tionghoa di Semarang kembali menggelar peringatan tragedi Mei 1998 dengan menyantap rujak pare bunga kecombrang di Gedung Rasa Dharma milik perkumpulan Boen Hian Tong di Kompleks Pecinan Semarang, Sabtu (23/5/2026) malam.
Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim mengatakan peringatan ini sudah rutin digelar sejak 2018 untuk merawat luka korban dan komunitas Tionghoa agar masyarakat tak melupakan sejarah.Menurut Harjanto, luka sejarah dalam tragedi perkosaan massal terhadap komunitas Tionghoa dapat dirasakan secara simbolis dengan menelan pare yang dirujak dengan sambal.
“Perempuan (korban) disimbolkan waktu bikin sambal harus diulek ya, teraniaya. Filosofi atau tanda kepahitan itu harus kita hadapi bahkan kita telan supaya kita bisa move on. Enggak bisa kita bantah, enggak bisa kita sangkal tapi harus kita akui bahwa itu terjadi,” tegas Harjanto saat dikonfirmasi, Senin (25/5/2026).
Baca juga: Anggota Komnas HAM: Pemerkosaan Massal 98 Dibantah Elit Politik Diakui Presiden Habibie
Korban Belum Mendapat Keadilan













