JAKARTA, KOMPAS.com - Keputusan FTSE Russell mengeluarkan empat saham Indonesia dari indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS) dinilai berpotensi memicu aksi jual asing lanjutan di pasar saham domestik.Tidak hanya saham yang didepak dari indeks, sejumlah saham berkapitalisasi jumbo di sektor perbankan dan telekomunikasi juga rentan terkena tekanan outflow.Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan tekanan jual asing setelah pengumuman FTSE Russell berpotensi merembet ke sejumlah saham unggulan yang selama ini menjadi portofolio utama dana asing berbasis FTSE. Baca juga: Asing Catat Net Sell Rp 131 Miliar, Saham BBCA, BBRI Hingga AMMN Jadi Sasaran Menurutnya, jika melihat komposisi beberapa fund fact sheet manajer investasi yang menggunakan FTSE sebagai acuan atau benchmark, portofolionya cenderung didominasi saham sektor perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Lalu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta saham telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Karena itu, apabila terjadi pengurangan bobot investasi dalam indeks FTSE, saham-saham tersebut berpotensi mengalami arus keluar dana asing (outflow).“Jika kita lihat beberapa fund fact sheet MI (manager investasi) dengan benchmark FTSE sahamnya cenderung dominan di sektor perbankan seperti BBRI, BMRI, BBCA serta TLKM, maka jika ada pengurangan bobot saham tersebut berpotensi mengalami outflow,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (23/5/2026). Baca juga: Dividen Jumbo BMRI Cair Besok Senin (25/5), Saham Bank Mandiri Justru Makin Murah Meski demikian, ia memandang tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai terbatas di area 5.800, sehingga kondisi pelemahan pasar saat ini dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi pembelian secara bertahap. Namun, ia menekankan investor tetap perlu selektif dalam memilih saham, yakni dengan memastikan emiten yang dibeli memiliki fundamental dan proyeksi kinerja yang baik ke depan agar tetap menarik dalam jangka menengah hingga panjang.“Dengan downside IHSG yang mulai terbatas di level 5800, maka ini menjadi kesempatan akumulasi bertahap bagi investor. Betul, dengan memastikan saham tersebut memiliki proyeksi kinerja yang baik kedepannya,” paparnya.














