Bogor - Merawat usaha keluarga yang sudah dirintis belasan tahun bukanlah perkara mudah. Butuh konsistensi, adaptasi, dan mental yang kuat agar dapat menghadapi pasang surut pasar yang tak menentu.Hal ini dibuktikan oleh Rizki Fauzi yang setia merawat kios ikan hias milik keluarganya selama 12 tahun. Berkat ketekunan dan kerja keras memutar roda bisnis tersebut, ia kini berhasil memiliki rumah sendiri.Kisahnya bermula saat sang ayah, Sudiyaman, merintis usaha ikan hias pada tahun 2008. Kala itu, Sudiyaman mendapatkan tawaran lapak dari Dinas Perikanan untuk berjualan di Depo Pemasaran Ikan Hias, Jalan Bina Marga, Kota Bogor.
Sudiyaman yang memang hobi dengan dunia aquascape menyambut peluang itu dengan tangan terbuka. Kios kecil berukuran 4x3 meter miliknya mulai diisi dengan berbagai perlengkapan akuarium, media filter, hingga deretan ikan hias warna-warni.Perlahan tapi pasti, usaha tersebut kian berkembang dan menemukan segmen konsumennya sendiri. Melihat potensi yang ada, Rizki selaku anak pertama tertarik untuk turun tangan membantu sang ayah membesarkan Pesona Aquarium pada tahun 2014."Sejak 2014 saya mulai ikut jagain, terus berlanjut sampai sekarang," cerita Rizki kepada detikcom beberapa waktu lalu.Perjalanan bisnis ini diakui Rizki tidak selamanya berenang di air yang tenang. Dinamika tren pasar yang cepat berubah menjadi tantangan terbesar yang menuntutnya harus pintar membaca kemauan konsumen.Di sisi lain, biaya operasional untuk menjaga kualitas air jadi pengeluaran rutin yang cukup menguras energi dan kantong. Mulai dari pasokan listrik pompa udara atau aerator yang harus menyala 24 jam hingga pembersihan filter berkala.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomMengandalkan KUR BRIMenyadari tantangan itu, Rizki pun harus memutar otak untuk memperluas jangkauan bisnisnya. Pada tahun 2018, ia memberanikan diri mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sebesar Rp 10 juta melalui Kantor Unit BRI Warung Jambu."Dana KUR itu saya pakai buat tambah aksesoris, akuarium, pelet, dan mesin-mesin pompa," kenang Rizki.Langkah ini terbukti mengubah wajah kiosnya. Suntikan modal tersebut membuat etalase tokonya semakin padat dan rapi. Jika dulu stok pelet dan mesin masih bercampur di satu sudut sempit, kini barang-barang tersebut sudah terpisah di area khusus.Penataan ini juga menjadi fondasi kokoh Pesona Aquarium ketika menghadapi momentum Pandemi COVID-19. Saat sebagian besar sektor ekonomi tiarap pada tahun 2020-2021, bisnis ikan hias milik Rizki justru cuan.Kebijakan pembatasan aktivitas di luar rumah memaksa masyarakat mencari hobi baru yang menyegarkan pikiran di dalam rumah. Hal ini membuat penjualan ikan hias milik Rizki meningkat."Penjualan paling tinggi itu pas COVID. Hampir semua jenis ikan laku, terutama ikan cupang karena orang butuh hobi di rumah. Omzet bulanan sampai (menyentuh angka) Rp 30 juta," ungkap Rizki.Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcomBuah Manis Kerja KerasSeiring berjalannya waktu pascapandemi, tren pasar kembali bergeser. Saat ini, kios milik Rizki banyak didominasi oleh jenis ikan hias populer yang ramah di kantong. Salah satunya adalah Glowfish, ikan kecil berwarna neon cerah yang biasa dijual Rp 20 ribu per paket isi 10 ekor. Selain itu, ada juga ikan jenis Angelfish atau Manfish, Platy, hingga Koki.Meski demikian, Rizky tetap menyediakan kelas premium sebagai daya tarik utama, seperti Ikan Koi Platinum berwarna putih bersih yang dibanderol mencapai Rp 500 ribu per ekor. Semua pasokan ikan ini didapat Rizki langsung dari jaringan petani lokal tepercaya di wilayah Bogor, sehingga kualitasnya tetap terjaga.Menariknya, rahasia utama Pesona Aquarium bisa bertahan di tengah persaingan bukan sekadar karena menjual ikan hias, melainkan karena ketulusan pelayanannya.Rizki membuka ruang konsultasi bagi para pencinta ikan kolam yang ingin mendesain sistem filter air agar kolam mereka tetap jernih. Tak jarang, Rizki juga langsung turun ke lapangan untuk membersihkan kolam para pelanggan setianya.Kerja keras menguras bak ikan setiap hari dan konsistensi melayani pelanggan itu akhirnya berbuah manis. Dari keuntungan bersih merawat usaha keluarga ini, Rizki berhasil mencapai impian terbesar setiap kepala keluarga, yaitu membeli sebuah rumah sendiri."Ya alhamdulillah bisa ke beli rumah," jelasnya.Rumah tersebut terletak di Tanah Sareal, Kota Bogor. Di rumah itulah kini Rizky merajut masa depan bersama istri dan anak tercintanya yang kini bersiap masuk Taman Kanak-Kanak (TK).(Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom)Bertahan Hadapi Gejolak PasarMemasuki tahun ini, Rizki tidak menampik bahwa kondisi pasar sedang mengalami fluktuasi dan cenderung menurun akibat situasi ekonomi makro yang belum stabil sepenuhnya. Namun, kelesuan pasar tidak lantas menyurutkan semangatnya untuk terus melangkah."Tantangannya sekarang adalah bagaimana harus bertahan dan terus berinovasi. Makanya, kami menyiasatinya dengan 'nyambi' menerima jasa perawatan kolam-kolam pelanggan," jelasnya.Ketika ditanya mengenai rencana menambah permodalan lewat mitra perbankan kembali, Rizky tidak menutup kemungkinan tersebut. Hanya saja, sebagai pelaku UMKM yang realistis, ia memilih untuk tetap memantau denyut nadi pasar terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh."Niat untuk mengajukan modal (KUR) lagi sebenarnya ada, tapi kita lihat situasi ekonomi dulu. Yang penting sekarang bertahan dulu di sini. Kalau pasarnya sudah sangat baik, baru kita ajukan lagi," pungkas Rizky optimis.UMKM Pilar EkonomiSementara itu, pada kesempatan terpisah, PT Bank Rakyat Indonesia (Tbk) (BRI) terus memperkuat UMKM sebagai tulung punggung ekonomi nasional. BRI berperan sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar di Indonesia dalam mendukung program pemerintah.Secara konsolidasi, total aset BRI tercatat mencapai Rp2.250 triliun pada akhir Maret 2026, tumbuh 7,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Hal itu ditopang oleh penyaluran kredit yang menunjukkan akselerasi yang solid.Hingga kuartal I-2026, total kredit BRI mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,7% yoy. Dan segmen UMKM menjadi tulang punggung bisnis, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun. Hal ini menegaskan fokus BRI dalam mendukung sektor riil dan ekonomi kerakyatan."Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portfolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun" jelas Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantot Pusat BRI, Kamis (30/4/2026)."Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah," imbuhnya.Sebagai informasi, BRI terus komitmen menjalankan berbagai program pemberdayaan untuk pelaku UMKM. Hal ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas usaha masyarakat sekaligus memperluas pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai wilayah.















