Jakarta -
Pertamina Patra Niaga ikut mendorong masyarakat pesisir Kampung Tua Terih, Batam, dalam mengoptimalkan pengolahan hasil laut menjadi produk pangan dan usaha untuk menambah penghasilan keluarga. Hal tersebut dilakukan melalui program Community Involvement & Development (CID) Kampung Bahari Si Pelaut binaan Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal Hang Nadim.Pertamina Patra Niaga dalam kunjungannya pada Rabu (5/8) menyerahkan 1.000 bibit ikan kakap dan 500 bibit ikan nila kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB) Terihindo Jaya Lestari dan Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari. Kampung binaan ini disebut memiliki potensi besar lantaran mampu mengolah sumber daya pesisir menjadi kegiatan ekonomi."Apa yang dikembangkan di sini menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan dapat dimanfaatkan menjadi kegiatan produktif, sarana edukasi, sekaligus produk yang memiliki nilai tambah. Potensinya sangat baik dan perlu terus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas," kata Komisaris Utama Pertamina Patra Niaga, Sabar Yudo Suroso, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (9/8/2026).
Program Kampung Bahari Si Pelaut melibatkan empat kelompok yang mengembangkan budidaya ikan dan sayuran, rehabilitasi mangrove, serta pengolahan hasil perikanan. Program ini meningkatkan pendapatan nelayan dan UMKM perempuan dari Rp 27,56 juta menjadi Rp 68,45 juta, atau sekitar 40% per anggota.Ketua Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari, dan Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar), Dian, mengatakan pendampingan Pertamina mendorong rasa percaya diri masyarakat untuk mengembangkan usaha. Selain itu, pendampingan ini juga memberikan akses untuk terus berkarya dan menambah penghasilan keluarga."Dulu kami hanya UMKM kecil. Setelah mendapat pendampingan, kami dibekali pengetahuan tentang produksi yang higienis, manajemen keuangan, branding, dan pemasaran digital. Dari awalnya hanya satu atau dua produk, sekarang kami memiliki enam produk unggulan. Pendapatan anggota kelompok juga bertambah dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari," ungkap Dian.Poklahsar sendiri mengolah enam produk unggulan, yakni keripik kulit ikan tenggiri, kerupuk kulit ikan kakap, swiss roll abon ikan, abon ikan, dan penyedap rasa dari tulang ikan hingga kepala udang. Produk tersebut kini telah dipasarkan hingga Malaysia dan Singapura.Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Terihindo Jaya Lestari, Seno, juga menilai pendampingan Pertamina Patra Niaga membantu kelompok nelayan mengembangkan budidaya ikan. Melalui inovasi Budidaya Ikan Terintegrasi (BUDITA/Eco-Dita), masa pemeliharaan ikan berkurang dari 240 hari menjadi sekitar 120 hari."Dengan adanya pembinaan, kami dapat membudidayakan ikan hingga ratusan bahkan ribuan ekor. Saat panen, pembeli datang langsung ke kampung dan ikut membeli hasil tangkapan masyarakat lainnya. Jadi, manfaatnya tidak hanya dirasakan kelompok, tetapi juga warga Kampung Teri. Kami berharap Pertamina Patra Niaga terus membimbing para nelayan agar kampung ini semakin berkembang," ujar Seno.Program Kampung Bahari Si Pelaut ini juga telah mengelola 35,24 ton sampah per tahun, mengurangi emisi sekitar 113,5 ton CO₂-ekivalen per tahun, dan merehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman 1.000 bibit mangrove.Dalam kesempatan terpisah, VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan Kampung Bahari Si Pelaut hanya salah satu contoh program pemberdayaan yang dikembangkan perusahaan di sekitar wilayah operasi dengan memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki setiap daerah."Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk terus mengembangkan program pemberdayaan yang berangkat dari potensi lokal di sekitar wilayah operasi perusahaan. Kami harap pendampingan yang dilakukan dapat menciptakan manfaat yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat," tutur Kitty.






