LONDON, KOMPAS.com - Sebanyak delapan perusahaan minyak terbesar di dunia mencatatkan rekor keuntungan kumulatif hampir 93 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.600 triliun) hanya dalam kurun waktu tiga bulan.
Lonjakan laba ini terjadi di tengah melonjaknya harga energi akibat konflik Iran serta rentetan krisis iklim fatal yang melanda berbagai belahan dunia.Angka tersebut didapatkan berdasarkan analisis The Guardian terhadap delapan produsen minyak yakni Saudi Aramco, ExxonMobil, Chevron, Shell, BP, Equinor, TotalEnergies, dan Eni.
Baca juga: Trump Ngamuk, Perusahaan Minyak Keruk Cuan dari Perang Iran
Jika dibandingkan, jumlah tersebut hampir dua kali lipat lebih besar daripada pendapatan RI sebesar Rp 3.153,5 triliun yang ditargetkan dalam APBN 2026.
Analisis The Guardian tersebut mengumpulkan pendapatan pada kuartal kedua yang berakhir Juni, periode ketika perang Iran memicu lonjakan harga minyak global hingga menembus lebih dari 126 dollar AS per barrel.













