TIDAK sampai dua hari setelah sembilan raja adat Pulau Timor mengalungkan kain kebesaran kepada Joko Widodo di Kupang, gelombang penolakan dan hujan kritik berdatangan dari rahim masyarakat Timor sendiri.

Bukan dari Jakarta, bukan dari elite partai seberang, melainkan dari organisasi mahasiswa, aliansi Cipayung, dan akademisi yang selama ini menjaga marwah adat itu dari dalam. Penobatan sebagai Sesepuh Raja-Raja Timor, yang berlangsung khidmat tersebut ternyata menyisakan luka ebih dalam daripada yang terlihat di panggung.

Fakta ini penting ditegaskan sejak awal, karena kritik terhadap instrumentalisasi adat paling sering dituduh datang dari kalangan yang "tidak paham budaya" atau "berkepentingan politik seberang".

Justru sebaliknya. Kritik paling tajam kali ini datang dari mereka yang hidup di dalam adat itu sendiri, dan karena itu justru paling berhak bicara.

Suara Kritis Generasi Muda Timor