ADA perjalanan sekadar memindahkan seseorang dari satu tempat ke tempat lain.

Ada pula perjalanan menggerakkan percakapan politik sebuah bangsa.Safari politik Joko Widodo dari Lampung menuju Nusa Tenggara Timur tampaknya termasuk dalam kategori kedua.

Di permukaan, ia hanyalah rangkaian kunjungan, pertemuan dengan masyarakat, tokoh adat, relawan, dan kader partai.

Namun, di balik itu tersimpan pertanyaan yang jauh lebih menarik: apa makna politik dari perjalanan seorang mantan presiden ketika kekuasaan formal telah ia tinggalkan?

Dalam demokrasi, berakhirnya masa jabatan tidak selalu berarti berakhirnya pengaruh.