Jakarta -
Badan Meteorologi Jepang mencabut peringatan tsunami yang dikeluarkan setelah gempa besar melanda wilayah barat daya negara itu pada hari Selasa (28/7).Peringatan tsunami tersebut dihapus dari situs web badan tersebut kurang dari dua jam setelah gempa dengan Magnitudo (M) 7,1 menyebabkan beberapa orang terluka, bangunan runtuh, dan kebakaran.Sebelumnya, Badan Meteorologi Jepang (JMA) menyatakan belum ada aktivitas tsunami yang teramati setelah gempa terjadi.
"Gempa ini terjadi di daratan, dan belum ada aktivitas tsunami yang teramati sejauh ini. Karena alasan ini, kami berharap dapat mencabut peringatan tsunami pada tahap yang relatif awal, tergantung pada kondisi permukaan laut di masa mendatang," kata juru bicara Badan Meteorologi Jepang, dilansir kantor berita AFP, Selasa (28/7/2026). Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan bahwa beberapa orang terluka, bangunan runtuh, dan kebakaran telah dilaporkan setelah gempa besar di barat daya negara itu."Kami masih menilai tingkat cedera dan kerusakan properti, tetapi saya telah diberitahu bahwa sudah ada beberapa orang yang terluka," kata Takaichi."Pemadaman listrik dan kebakaran terjadi di beberapa daerah, dan jalan serta jembatan telah rusak dan bangunan ambruk," katanya.Sementara Otoritas Regulasi Nuklir mengatakan bahwa tidak ada anomali langsung yang dilaporkan di pembangkit listrik tenaga nuklir setelah gempa.Perusahaan utilitas lokal Kyushu Electric Power mengatakan bahwa tiga reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir yang beroperasi di wilayah tersebut saat gempa terjadi, tetap beroperasi normal.














