Penulis: Zsombor Peter/DW Indonesia

KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) ingin agar pasokan unsur tanah jarangnya tidak bergantung pada China. Namun dukungan Washington bagi Israel justru memicu penolakan atas perjanjian dagang bernilai 96 juta dollar AS (Rp 1,7 triliun) di Malaysia.Pada Maret 2026, Kementerian Pertahanan AS menandatangani kesepakatan empat tahun dengan perusahaan pertambangan Australia, Lynas, untuk menggali 17 logam unsur tanah jarang.Unsur-unsur tersebut merupakan inti dari produksi industri modern dan digunakan untuk berbagai hal, mulai dari ponsel pintar, mobil listrik, hingga sistem persenjataan mutakhir.

Kesepakatan strategis AS-Lynas ini bergantung pada pabrik pengolahan utama Lynas di Gebeng, sebuah kota industri yang padat penduduk di pesisir timur semenanjung Malaysia.

Pabrik Gebeng merupakan fasilitas pengolahan terbesar untuk Logam Tanah Jarangdi luar China.

Baca juga: Kenapa Dana Pensiun PNS Malaysia Bisa Nyangkut di Startup Indonesia eFishery?