HUBUNGAN antara Turkiye dan Israel memasuki fase baru. Kedua negara yang notabene merupakan mitra strategis, sekaligus sekutu Amerika Serikat (AS) tersebut, berpotensi untuk berkonflik, bahkan terseret ke dalam baku hantam peperangan di masa mendatang.

Turkiye memang sudah sejak lama geram dengan perilaku biadab Israel yang bukan saja menginjak-nginjak hukum internasional, tapi juga melecehkan kemanusiaan.Bagi Turkiye, sebagaimana tercermin dalam pidato dan pernyataaan Presiden Recep Tayyip Erdogan di berbagai forum, perilaku keji Israel yang melakukan genosida di Gaza, memprovokasi AS untuk menyerang Iran, serta menyerang warga sipil dan pasukan penjaga perdamaian di Lebanon, merupakan tindakan-tindakan yang tidak bisa ditolerir lagi.

Kegeraman Ankara ditangkap dengan baik oleh Tel Aviv. Dalam sebuah rapat kabinet di Yerusalem, Senin (29/6/2026), sebagaimana dikutip dari harian arus utama Israel, the Times of Israel, Perdana Mentri Benjamin Netanyahu mengungkapkan kegelisahannya atas pernyataan dan sikap Presiden Erdogan.

Ia menyebutkan bahwa sikap Presiden Erdogan adalah bentuk permusuhan yang nyata karena menyerukan kehancuran bagi Israel.

Dan, bagi Netanyahu, Israel akan menyikapinya secara serius. Jika benar Turkiye ditempatkan sebagai ancaman dalam persepsi Israel, maka Israel akan berada pada situasi yang tidak menguntungkan mengingat Turkiye adalah kekuatan militer besar yang jauh di atas Iran—musuh kawasan yang tak mampu dikalahkan Israel.