BABAK 32 besar Piala Dunia 2026 baru saja usai. Babak tersebut bukan hanya menghadirkan pertandingan-pertandingan dramatis, tetapi juga membuka ruang untuk memahami bagaimana globalisasi mengubah makna kewarganegaraan dan identitas nasional.

Salah satu contohnya tampak dalam pertandingan Inggris melawan Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) pada Rabu (1/7/2026).Di kubu RD Kongo berdiri Aaron Wan-Bissaka, pemain yang lahir di London, dibesarkan dalam sistem sepak bola Inggris, bahkan pernah mengenakan seragam tim nasional kelompok usia Inggris.

Dalam pertandingan melawan negeri kelahirannya sendiri, ia justru menjadi bagian dari upaya menyingkirkan Inggris dari Piala Dunia.

Di luar kemenangan Inggris 2-1, pertandingan tersebut menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih menarik daripada sekadar hasil akhir: bagaimana mungkin seorang pemain yang pernah membela satu negara kemudian tampil membela negara lain di Piala Dunia?

Jawabannya membawa kita pada salah satu aspek yang jarang dibahas dalam sepak bola, yakni politik kewarganegaraan.