KETIKA Piala Dunia FIFA 2026 dimulai pada 18 Juni 2026 di Stadion Azteca, Meksiko, berbagai prediksi mengenai calon juara segera bermunculan.
Salah satu yang paling menarik perhatian datang dari matematikawan dan ekonom Jerman, Joachim Klement.Dengan memadukan indikator seperti produk domestik bruto (PDB), jumlah penduduk, budaya sepak bola, dan peringkat FIFA, Klement membangun model probabilistik yang sebelumnya berhasil memprediksi juara Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022.
Berdasarkan model tersebut, Belanda diprediksi menjadi juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Portugal di partai final.
Namun, sepak bola kembali membuktikan bahwa ia tidak sepenuhnya tunduk pada angka dan probabilitas.
Bahkan saat babak gugur baru saja berakhir, prediksi tersebut sudah menghadapi persoalan.














