Jakarta - Pemerintah Indonesia memperkuat hilirisasi industri nikel nasional melalui pendalaman rencana investasi pembangunan fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) bersama perusahaan teknologi pemrosesan material baterai asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT).Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu mengatakan, investasi ini penting untuk melengkapi rantai nilai hilirisasi nikel, khususnya pada tahap midstream, yaitu produksi precursor untuk baterai kendaraan listrik.Todotua sudah bertemu Stephen Wilmot selaku Chairman Pure Battery Technologies, serta Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) Sydney, Leidy Surianingrat, di kantor IIPC Sydney, Australia.
Menurut Todotua, PBT berencana mengembangkan industri precursor bahan katoda (pCAM) berbasis Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang dipasok dari fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) domestik, dengan tujuan jangka panjang membangun fasilitas produksi pCAM di Indonesia."Indonesia sudah memiliki HPAL dan akan segera memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda. Dan justru di sinilah investasi seperti Pure Battery Technologies menjadi krusial untuk melengkapi ekosistem baterai yang terintegrasi penuh," ujar Todotua dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7/2026).Nilai investasi proyek tersebut direncanakan mencapai sekitar US$ 350 juta atau setara Rp 6,29 triliun (asumsi kurs Rp 17.995/US$ 1). Investasi ini akan melengkapi rantai nilai industri baterai nasional, mulai dari nikel, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), pCAM, katoda, hingga sel baterai.Investasi ini sekaligus memperkuat daya saing Indonesia sebagai pusat ekosistem kendaraan listrik. Bagi Indonesia, kehadiran investasi pCAM penting karena menjawab tantangan kesenjangan rantai pasok di tahap midstream, sekaligus mengoptimalkan nilai tambah yang selama ini belum dapat ditangkap di dalam negeri.Tahap battery precursor saat ini masih merupakan mata rantai yang belum dikembangkan di Indonesia, sekaligus menjadi salah satu titik penciptaan nilai tertinggi dalam rantai industri nikel, di mana nilai material dapat meningkat signifikan dari MHP menjadi battery precursor.Dengan pengembangan industri pCAM di dalam negeri, nilai tambah tersebut diharapkan dapat dinikmati di Indonesia, bukan di luar negeri. Direktur IIPC Sydney Leidy Surianingrat menyampaikan, pihaknya akan terus memfasilitasi proses tindak lanjut investasi ini, termasuk koordinasi dengan calon mitra strategis."IIPC Sydney berkomitmen untuk terus memfasilitasi perjalanan investasi Pure Battery Technologies di Indonesia, dengan menghubungkan perusahaan ke pemangku kepentingan pemerintah dan mitra strategis yang relevan, serta mendukung langkah-langkah selanjutnya menuju realisasi proyek," ujar Leidy.










