Jakarta - Indonesia Investment Authority (INA) buka suara terkait nasib kepemilikan saham perbankan di tengah volatilitas pasar modal. Diketahui, INA memegang sejumlah saham perbankan plat merah, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), INA memiliki saham BBRI banyak 5.498.021.834 atau setara 3,63%. Sementara pada saham BMRI, INA tercatat menggenggam saham perseroan sebanyak 7.466.666.666 atau setara 8% dari total saham beredar.Chief Financial Officer INA, Eddy Porwanto, mengaku akan mempertahankan kepemilikan saham di kedua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut di tengah tingginya volatilitas pasar saat ini. Menurutnya, kedua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) ini memiliki prospek jangka panjang yang baik.
"Kita tentunya akan terus simpan itu Bank Mandiri dan BRI. Jadi kita melihat volatilitas yang terjadi saat itu adalah untuk sementara waktu saja. Jadi kita percaya jangka panjang daripada Bank Mandiri dan BRI itu masih sangat-sangat bagus," ungkap Eddy dalam acara media briefing di Tamu, Jakarta, Rabu (1/7/2026).Eddy menjelaskan, kepemilikan INA terhadap saham BBRI dan Bank Mandiri ini mulanya diberikan sebagai modal awal perusahaan sejak operasional pertama tahun 2021. Hingga kini kedua saham tersebut masih dipertahankan mengingat dividen yang diberikan kedua emiten plat merah ini terbilang besar."Sejak kita diberikan saham tersebut sampai hari ini dan ke depannya kita percaya bahwa return daripada dividen Bank Mandiri dan BRI itu sangat-sangat bagus," pungkasnya.Diketahui saat ini, saham BBRI melemah 1,83% ke harga Rp 2.690 per saham. Kemudian jika ditarik sepanjang tahun 2026, saham BBRI melemah sebesar 26,5% dengan net foreign sell sebesar Rp 12,71 triliun.Sementara BMRI, pada perdagangan yang sama terkoreksi sebesar 1,04% ke harga Rp 3.810 per saham. Saham bank plat merah ini melemah sebesar 25,29% sepanjang tahun 2026, dengan net foreign sell sebesar Rp 12,71 triliun dalam periode yang sama.







