Jakarta - Indonesia Investment Authority (INA) membukukan pertumbuhan dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) sebesar Rp 146,2 triliun hingga tahun 2025. Angka tersebut tumbuh 1,9 kali dibanding tahun pertama operasional INA.Sepanjang lima tahun berdiri, secara kumulatif investasi yang disalurkan INA dan mitra mencapai Rp 74,5 triliun. Adapun rinciannya, porsi penyaluran investasi INA mencapai Rp 33,3 triliun dan mitra sebesar Rp 41,2 triliun."Lima tahun INA untuk Indonesia capaian investasi kita dari kinerja kita, total asset under management Rp 146 triliun, tumbuh 1,9 kali dibandingkan dengan tahun pertama kita beroperasi. Kalau kita break it down, Rp 110,2 triliun itu dari INA, kemudian Rp 36 triliun itu dari mitra investasi kita. Jadi all partners itu actually grown 4,5 kali dibandingkan tahun pertama kita operasional," ungkap CEO INA, Oki Ramadhana, dalam acara media briefing di Tamu, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Oki menjelaskan, alokasi investasi berdasarkan sektor mayoritas di bidang transportasi dan logistik sebesar 44%. Kemudian di sektor digital dan kecerdasan buatan (AI) sebesar 29,6%, energi hijau 9,8%, kesehatan 9,2%, advanced material 5,5%, dan sektor pptensial lainnya sebesar 1,9%."Kalau kita lihat, transportasi dan logistik ini memang masih besar 44%. Tapi ke depan we continue to diversify to other sector juga supaya lebih balance," jelasnyaOki menambahkan, INA berhasil mempertahankan peringkat internasional sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) dari Fitch Ratings pada posisi BBB. Sementara di tingkat nasional, peringkat investasi INA pada posisi AAA."Kita alhamdulillah bisa mendapat Fitch Ratings, and this was in 2025, Fitch Ratings triple B, sama dengan sovereign, dan kemudian kita juga just be sure, just to prove, bahwa kita memiliki tata kelola yang sejalan dengan standar global, the utmost standard of governance in the sovereign wealth fund," pungkasnya.