Caracas - Tim Penyelamat Berpacu dengan Waktu, Korban Gempa Venezuela Jadi 1.450 OrangYang perlu Anda tahu:Setidaknya 1.450 orang tewas dan sekitar 3.150 lainnya luka-luka sejak dua gempa dahsyat mengguncang Venezuela pada Rabu (25/06) malamLebih dari 68.900 orang dilaporkan hilang, sementara batas waktu kritis 72 jam untuk menyelamatkan korban yang terperangkap sudah lewatPresiden sementara Venezuela mengumumkan sekolah di seluruh negeri akan tetap tutup selama sepekan lagiUni Eropa menggelontorkan bantuan darurat senilai 5 juta euro (Sekitar Rp101,5 miliar) untuk merespons bencana iniPencarian korban terus berlanjut setelah jendela waktu 72 jam terlewatiKeberhasilan menyelamatkan seorang ayah dan anaknya menjadi secercah harapan di tengah kegelapan bencana Venezuela di saat jendela kritis 72 jam untuk menemukan korban selamat pasca bencana alam sudah berlalu.72 jam pertama secara luas dianggap sebagai waktu terbaik untuk menyelamatkan orang yang terperangkap di bawah reruntuhan. Setelah itu, upaya penyelamatan sering kali beralih menjadi pencarian jenazah.
Setidaknya 33 orang berhasil dikeluarkan hidup-hidup dari bangunan yang runtuh selama akhir pekan, meski puluhan ribu orang masih dilaporkan hilang. Tim penyelamat masih terus berjibaku mencari korban selamat pascagempa kembar Venezuela yang mengguncang pada 25 Juni lalu.Ayah dan anak ditemukan hidup di reruntuhan setelah 12 jam operasi penyelamatanSeorang ayah dan anaknya berhasil diselamatkan dari reruntuhan sebuah gedung yang runtuh di La Guaira, Venezuela, pada Minggu (28/06), empat hari setelah gempa kembar dahsyat mengguncang negara itu. Keduanya terlihat sangat lemah dan mengenakan masker saat diangkat menuju ambulans yang sudah menunggu."Mereka sangat lemah, seperti halnya pasien manapun yang terjebak di bawah reruntuhan selama empat hari. Kami melakukan segalanya untuk menghidrasi mereka dan memberikan berbagai obat-obatan selama proses evakuasi yang berjalan sangat lambat ini," kata salah satu anggota tim penyelamat Keamanan Sipil Prancis.Operasi 12 jam untuk menemukan keduanya merupakan kerja sama tim penyelamat Prancis dan AS yang menggunakan kamera pencari khusus dan dengan hati-hati menyingkirkan puing-puing yang tidak stabil untuk menjangkau para korban.Keberhasilan penyelamatan ini menjadi tanda harapan yang langka di tengah upaya tim darurat yang terus berjuang menemukan tanda-tanda kehidupan, seiring merosotnya peluang bertahan hidup setelah 72 jam pertama pasca gempa besar.Jumlah korban terus bertambahKetua Majelis Nasional Venezuela Jorge Rodrguez mengonfirmasi bahwa korban tewas kini mencapai 1.450 orang, naik dari angka sebelumnya 1.430. Ribuan orang lainnya turut menjadi korban luka dalam bencana ini.Dubes Jerman untuk Venezuela: Peluang menemukan korban 'kian tipis'DW berbicara dengan Volker Pellet, Duta Besar Jerman untuk Venezuela, mengenai gempa bumi, situasi politik, dan respons penanggulangan bencana. Ia berbicara kepada DW dari Caracas."Ada dua realita. Ada satu realita di Caracas, kota besar dengan lebih dari 5 juta orang yang terdampak," kata Pellet. "Tapi bencana sesungguhnya terjadi di pesisir, sekitar satu jam dari sini, kota La Guaira, yang kondisinya benar-benar seperti skenario kiamat.""Ini benar-benar realita yang sama sekali berbeda," kata Pellet. "Bahkan di sepanjang pantai itu sendiri pun demikian. Ketika mendekati pemandangan mengerikan itu dari jarak beberapa kilometer, kamu melihat sangat sedikit kerusakan. Lalu tiba-tiba, dalam sekejap, segalanya hancur total. Kita perlu bertanya kepada para ahli seismik mengapa itu bisa terjadi. Ini benar-benar mengejutkan untuk dilihat. Saya sudah ke sana tadi malam."Pellet ditanya bagaimana pemerintahan di bawah Presiden Sementara Delcy Rodriguez menangani situasi ini. Ia mengatakan penting untuk mempertimbangkan bahwa pemerintah Venezuela sudah lama kesulitan menyediakan layanan publik."Ini situasi yang kacau. Saya pikir di banyak negara pun ini akan menjadi masalah besar," kata Pellet. "Tapi kalau kamu mempertimbangkan kondisi layanan publik yang sudah tidak optimal selama 20 tahun terakhir, kamu bisa membayangkan seperti apa situasinya sekarang."Pellet juga berbicara soal respons bantuan internasional. Ia menyebut 25 negara terlibat dalam upaya bantuan."Kami punya sekitar 3.000 pekerja bantuan di sini. Fokusnya pada pencarian dan penyelamatan, seperti biasanya dalam bencana semacam ini. Saya pernah ke Haiti, jadi saya punya sedikit pengalaman dalam upaya menyelamatkan nyawa. Tapi sayangnya, kini setelah 3 atau 4 hari sejak bencana ini, peluang untuk menemukan korban semakin tipis setiap detiknya. Meski begitu, mereka melakukan pekerjaan luar biasa. Mereka melakukan semua yang mereka bisa. Mereka bekerja tanpa istirahat demi membantu dan menyelamatkan nyawa manusia."Paus Leo nyatakan solidaritas dengan korbanPaus Leo XIV, dalam sebuah unggahan di X, menyatakan solidaritasnya dengan "saudara-saudari Venezuela yang terdampak oleh gempa bumi yang telah merenggut banyak nyawa dan menimbulkan cedera, serta kerusakan properti yang luas.""Mendoakan kepada Tuhan untuk ketenangan abadi para almarhum, saya kembali menyatakan solidaritas spiritual saya dengan keluarga mereka, para korban luka, dan semua yang terguncang oleh tragedi ini," ujarnya. "Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih dan semangat kepada mereka yang dengan murah hati bekerja dalam upaya pencarian, penyelamatan, dan pemberian bantuan."Selain memiliki kewarganegaraan AS, Leo juga merupakan warga negara Peru, salah satu negara Amerika Latin lainnya. Leo dilaporkan berencana melakukan lawatan ke Amerika Latin pada November mendatang, dengan Peru, Argentina, dan Uruguay masuk dalam agenda. Belum jelas apakah Leo juga akan mengunjungi Venezuela dalam waktu dekat pasca gempa ini. Venezuela sendiri merupakan negara dengan mayoritas penduduk Katolik.UE kirim 5 juta euro bantuan darurat untuk VenezuelaKepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, pada Minggu (28/06) mengatakan ia telah berbicara dengan pemimpin Venezuela Delcy Rodriguez setelah gempa dan menyampaikan "solidaritas penuh" UE kepada rakyat Venezuela."UE telah menggelontorkan 5 juta euro (sekitar Rp101,5 miliar) dalam bantuan darurat untuk komunitas yang terdampak," katanya dalam sebuah unggahan di X."Sistem satelit Copernicus milik UE mendukung tim respons darurat dengan membantu memetakan kerusakan dan mengarahkan bantuan ke tempat yang paling membutuhkan," tambahnya.PBB: Gempa Venezuela berdampak pada hampir 7 juta orangMenurut perkiraan PBB, hingga tujuh juta orang mungkin terdampak oleh gempa kembar yang mengguncang Venezuela.Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menyebutkan "hingga 6,76 juta orang bisa terdampak," dengan kalkulasi yang didasarkan pada data populasi dan kerusakan yang tersedia. Proyeksi tersebut mencakup hingga 2 juta orang di Caracas saja.IOM menyebut perkiraan ini menyoroti "dampak kemanusiaan yang berpotensi sangat luas dari bencana ini."Jumlah korban tewas secara nasional kini mencapai 1.450 orang, sementara ribuan orang masih hilang, banyak di antaranya diduga masih terperangkap di bawah reruntuhan di kota pesisir La Guaira dan wilayah lainnya.Badan migrasi PBB mendesak respons yang lebih besar dari komunitas internasional, dengan menegaskan bahwa kebutuhan negara itu "mendesak dan signifikan." IOM menyerukan penyediaan tempat penampungan darurat, air bersih dan sanitasi, serta layanan kesehatan.Artikel ini pertama kali ditulis dalam Bahasa InggrisDiadaptasi oleh Fika RamadhaniEditor: Yuniman FaridLihat juga Video: Jumlah Korban Gempa Venezuela Kini Tembus 1.450 Jiwa













