DI SOLO, pertengahan Juni lalu, Joko Widodo berbicara kepada awak media dengan nada yang terdengar seperti pernyataan biasa.
"Kan sudah saya sampaikan, Prabowo-Gibran dua periode. Sudah, itu saja," katanya singkat. Kalimat itu pendek. Tapi bobotnya tidak.Seorang presiden yang telah purnatugas, yang konstitusi telah membatasi masa jabatannya, dan yang pernah mengucapkan, ia akan kembali ke rakyat dengan tenang menikmati masa senja, kini dengan terang-terangan mengatur peta politik berikutnya.
Bukan sebagai warga negara biasa yang menyampaikan pendapat. Ia memerintahkan.
Kepada relawan, kepada partai, kepada siapa saja yang masih mau mendengar.
Dan yang paling mengusik bukan pernyataannya, melainkan betapa wajarnya semua itu terasa.











