SEJAK dibuka di Stadion Azteca, Mexico City, pada 11 Juni 2026, putaran final Piala Dunia yang digelar di 16 stadion—11 di Amerika Serikat, tiga di Meksiko, dan dua di Kanada—tidak hanya menjadi panggung pertandingan sepak bola.
Ajang ini juga menjelma menjadi ruang diplomasi publik dan paradiplomasi, dua praktik penting dalam hubungan internasional kontemporer yang memperlihatkan bagaimana olahraga dapat menjadi instrumen diplomasi di era globalisasi.Diplomasi publik (public diplomacy) merupakan upaya pemerintah membangun citra, memengaruhi persepsi, serta memperoleh dukungan masyarakat internasional secara langsung, bukan semata melalui perundingan antar pemerintah.
Diplomasi ini bertumpu pada daya tarik (attraction), bukan paksaan (coercion).
Gagasan tersebut sejalan dengan konsep soft power yang diperkenalkan oleh Joseph Nye, yakni kemampuan suatu negara memperoleh apa yang diinginkan melalui daya tarik budaya, nilai-nilai, dan kebijakan, alih-alih melalui kekuatan militer atau tekanan ekonomi.
Jika diplomasi tradisional berlangsung dalam pola government to government, maka diplomasi publik berkembang melalui pola government to people, bahkan semakin luas menjadi people to people.






