Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) buka suara terkait keluhan dari sejumlah pelaku industri soal kenaikan harga gas alam cair atau LNG. Dikatakan kenaikan harga terjadi mengikuti lonjakan harga energi global beberapa bulan terakhir."Kami memahami concern dari pelaku industri, karena beberapa bulan terakhir harga energi global naik dan ikut mempengaruhi harga LNG yang kami beli dari produsen LNG. Kami juga sudah menerima masukan dari asosiasi maupun pelanggan terkait kondisi ini," kata Corporate Secretary Fajriyah Usman dalam keterangan resminya, Kamis (25/6/2026).Fajriyah menjelaskan penyesuaian harga gas berbasis LNG tidak dapat disamakan dengan mekanisme harga gas pipa karena terdapat komponen biaya tambahan mulai dari pembelian LNG, transportasi, penyimpanan hingga proses regasifikasi.
"Faktanya, lonjakan harga energi global dalam beberapa bulan terakhir turut mendorong kenaikan biaya pengadaan LNG," ujarnya.Lebih lanjut, menurutnya salah satu indikator penyesuaian harga LNG ini dapat terlihat dari Indonesian Crude Price (ICP), yang tercatat telah meningkat dari US$ 64 per barel pada Januari 2026 menjadi sekitar US$ 117 per barel pada April 2026.Dalam hal ini, Fajriyah menyebut PGN telah menahan dampak kenaikan biaya tersebut selama beberapa bulan pertama tahun ini dan baru melakukan penyesuaian harga secara bertahap pada Juni 2026 sebagai hasil evaluasi serta koordinasi dengan pemerintah."Penyesuaian ini hanya berlaku pada sekitar 21% porsi pasokan berbasis LNG dengan dampak terbesar di wilayah Jawa Bagian Barat. Sementara sekitar 79% pasokan lainnya, termasuk gas pipa dan pasokan untuk tujuh sektor industri penerima HGBT, tidak mengalami kenaikan dan tetap mengacu pada ketetapan pemerintah," ujar Fajriyah.PGN berharap kenaikan harga LNG tersebut hanya bersifat sementara. Sebab perusahaan memperkirakan harga gas berbasis LNG berpotensi turun dalam beberapa bulan ke depan seiring mulai meredanya harga minyak dunia sejak pertengahan Juni 2026."Kami harapkan harga gas berbasis LNG juga berpotensi mengalami penurunan dalam sekitar tiga bulan ke depan sesuai formula yang berlaku," terusnya.Fajriyah mengatakan, dengan harga penyesuaian saat ini, LNG dinilai masih menjadi sumber energi yang lebih kompetitif dibandingkan solar industri maupun LPG industri yang masih digunakan sebagian pelaku usaha."Selain itu, harga LNG domestik saat ini masih relatif lebih rendah dibandingkan harga gas di sejumlah negara Asia Tenggara yang juga terdampak gejolak pasar energi global," paparnya.PGN Pastikan Pasokan LNG AmanSementara untuk isu penurunan alokasi pasokan gas, Fajriyah menegaskan pasokan gas bumi bagi seluruh pelanggan industri pada Juni 2026 tetap tersedia, baik yang berasal dari gas pipa maupun LNG."Saat ini kebutuhan gas bumi untuk industri dipenuhi oleh PGN melalui portofolio gas pipa dan gas dari regasifikasi LNG. Yang paling penting, kami memastikan bahwa pasokan gas bagi seluruh pelanggan pada Juni 2026 tersedia, baik yang bersumber dari gas pipa maupun LNG," tegasnya.Kemudian terkait penyaluran gas murah melalui program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), PGN menegaskan seluruh pelaksanaannya mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 250 Tahun 2026 yang mengatur penerima, volume, harga, sumber pasokan hingga mekanisme penyesuaian apabila alokasi gas dari hulu mengalami penurunan."PGN sepenuhnya mengacu pada regulasi yang berlaku. Apabila volume alokasi dari hulu turun, maka penerimaan volume HGBT di industri juga mengalami penurunan," jelas Fajriyah.Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa PGN akan terus berkoordinasi dengan asosiasi industri guna mencari solusi yang memungkinkan, termasuk optimalisasi pemanfaatan gas pipa maupun skema komersial tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.







