Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan banyak importir marah ke dirinya karena Indonesia mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Bahlil mengatakan, konsumsi bensin Indonesia mencapai 40 juta kiloliter (KL) per tahun, sementara produksi dalam negeri 20 juta KL. Hal ini seiring telah diresmikannya pengembangan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan."Jadi, sekarang tinggal kita impor bensin tinggal 20 juta kiloliter. Nah, ini memang para importir marah gue nih, karena pikiran saya ke depan adalah nggak boleh kita impor. Sekalipun lifting kita katakanlah nggak mencukupi, kita harus konversi dia untuk bauran energi dengan energi nabati. Kalau B50 bisa kita memenuhi kebutuhan solar kita, kenapa bensin nggak?," ujar Bahlil di acara Indef, Kamis (25/6/2026).
Pemerintah berencana menerapkan program campuran etanol atau E20 pada 2028 untuk mengurangi impor bensin. Bahlil menilai langkah ini akan mengurangi impor bensin 4 juta KL."Dan ini terjadi di Amerika, di Brasil, dan beberapa negara lain. Tujuannya apa? Agar kita bisa mengurangi impor kita. Agar devisa kita itu tidak keluar," ujarnya.Bahlil bilang langkah ini juga membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Negara setiap tahunnya mengeluarkan devisa untuk membeli BBM sekitar US$ 30 miliar."Malah saya lagi berpikir ya, kalau bisa belanja di negara lain tidak pakai dolar mungkin itu salah satu antara alternatif juga supaya ada diversifikasi," katanya.






