Jakarta - PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) membagikan pengalaman sebagai perusahaan perunggasan terintegrasi pertama di Indonesia yang mengintegrasikan kajian ilmiah secara formal ke dalam strategi keuangannya dalam sesi panel bertajuk 'Science-Based Sustainable Finance' pada Konferensi Social Life Cycle Assessment (S-LCA) di Bogor.Dalam sesi tersebut, JAPFA memaparkan bagaimana kajian menyeluruh Life Cycle Assessment (LCA) yang dilakukan perusahaan menjadi landasan strategis dalam mengakses berbagai instrumen pembiayaan berkelanjutan global, sekaligus mendukung visi perusahaan 'Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama'.Pendekatan ini semakin menegaskan posisi JAPFA sebagai pelopor di sektor perunggasan Indonesia dalam menerapkan evaluasi ilmiah yang komprehensif untuk mengukur dampak lingkungan di seluruh rantai produksi yang dimiliki perusahaan.
Seiring berkembangnya praktik keuangan berkelanjutan di tingkat global, investor, pemegang obligasi, dan lembaga perbankan semakin mempertimbangkan aspek lingkungan dan sosial dalam pengambilan keputusan investasi.Di sisi lain, institusi keuangan juga menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk memastikan bahwa inisiatif keberlanjutan yang mereka biayai benar-benar kredibel dan memberikan dampak nyata.Dalam konteks tersebut, metodologi berbasis sains seperti LCA menjadi instrumen penting yang mampu menyediakan dasar yang transparan dan terpercaya dalam penetapan target keberlanjutan serta pengukuran pencapaiannya.Panel diskusi ini juga mendorong para praktisi LCA yang hadir dalam konferensi S-LCA terbesar hingga saat ini untuk membentuk lembaga akreditasi profesi, sehingga hasil kajian yang dihasilkan dapat semakin dipercaya oleh komunitas keuangan maupun pemangku kepentingan lainnya.Diskusi tersebut menyoroti pentingnya data ilmiah yang akurat dalam mengidentifikasi material environmental hotspots, sehingga perusahaan dapat menetapkan target kinerja keberlanjutan yang ambisius dan relevan. Temuan dari kajian tersebut kemudian menjadi dasar dalam penyusunan Sustainability Performance Targets yang terintegrasi ke dalam instrumen pembiayaan berkelanjutan JAPFA."Membangun kredibilitas di mata investor ESG harus dimulai dengan menjadikan keberlanjutan sebagai bagian inti dari bisnis, bukan sekadar inisiatif terpisah. Hal ini berarti perusahaan perlu fokus pada aspek yang benar-benar material di sepanjang rantai nilai untuk mengidentifikasi area yang memiliki potensi perbaikan paling signifikan," ujar Director and Chief Financial Officer Japfa Ltd Kevin Monteiro, dalam keterangan tertulis, Senin (22/6/2026)."Salah satu cara paling kredibel untuk melakukannya adalah melalui pendekatan LCA berbasis sains," sambungnya.JAPFA membagikan pengalamannya sebagai pionir industri unggas dalam mengintegrasikan penilaian siklus hidup (LCA) berbasis sains untuk mendukung strategi keuangan berkelanjutan perusahaan. Foto: JAPFAKevin menambahkan pengalaman JAPFA dalam mengintegrasikan pendekatan ilmiah dengan strategi keuangan telah menghasilkan berbagai pencapaian nyata. Pada tahun 2021, perusahaan berhasil memperoleh pendanaan melalui Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai US$ 350 juta, yang menjadi yang pertama di dunia untuk sektor agrifood.Pencapaian tersebut kemudian dilanjutkan pada tahun 2025 melalui Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$ 150 juta yang untuk pertama kalinya memasukkan indikator sosial (Social KPI), dengan fokus pada peningkatan status gizi dan kesejahteraan anak-anak, khususnya di wilayah pedesaan, melalui program JAPFA for Kids.Komitmen JAPFA terhadap keberlanjutan juga didukung oleh Japfa Sustainability Reporting System (JSRS), sebuah ekosistem digital yang mengelola 5.095 titik data ESG (Environmental, Social and Governance) setiap bulan di seluruh operasional Perusahaan di berbagai negara.Tidak hanya fokus pada operasional internal, JAPFA juga berkontribusi dalam pengembangan standar industri global melalui kolaborasi dengan United Nations Environment Programme (UNEP) dalam studi internasional pertama mengenai mata pencaharian peternak plasma. Hasil studi tersebut turut menjadi dasar dalam penyusunan pedoman S-LCA untuk industri perunggasan global.Berkat transparansi dan kinerja keberlanjutan yang kuat, JAPFA berhasil masuk dalam daftar 'World's Best Companies 2025' versi TIME dan Statista, serta meraih penghargaan 'Best Sustainability-Linked Loan - Agriculture' pada tahun 2026.Simak juga Video 'Kenapa Pelemahan Rupiah dan IHSG Tak Kunjung Berhenti?':






