Jakarta - Pemerintah tengah menyiapkan skenario uji coba sistem pembayaran tol tanpa berhenti atau Multi Lane Free Flow (MLFF) sebelum diterapkan lebih luas di Indonesia. Tahap ini dilakukan untuk menguji kesiapan teknologi dan kesesuaiannya dengan kondisi jalan tol nasional.Direktur PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) Renaldi Utomo mengatakan perusahaan saat ini terlibat dalam penyusunan skenario teknis untuk pelaksanaan pengujian tersebut. Berbagai kemungkinan kondisi di lapangan sedang dibahas sebagai bagian dari persiapan.Menurut Renaldi, koordinasi antara pemerintah dan investor berjalan baik. Ia juga menilai pemerintah masih berkomitmen melanjutkan proyek MLFF.

Sebagai investor dan mitra pemerintah dalam proyek tersebut, RITS masih menunggu keputusan terkait lokasi dan waktu pelaksanaan uji coba. Bali yang sejak awal direncanakan sebagai lokasi percontohan masih menjadi salah satu opsi, meski pengujian juga bisa dilakukan di ruas tol lain."Kami menunggu arahan pemerintah. Dari 2022 sampai sekarang kami selalu mengikuti arahan yang diberikan pemerintah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (21/6/2026).Renaldi menjelaskan kontrak kerja sama yang dimiliki RITS sejak menerima surat perintah kerja pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada konsep MLFF. Namun dalam masa transisi, sistem gerbang tol dengan palang masih dimungkinkan untuk digunakan."Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung," katanya.Menurutnya, penyusunan skenario dan pengujian menjadi tahapan penting sebelum pemerintah mengambil keputusan terkait implementasi MLFF secara lebih luas. Sistem ini diharapkan dapat mengurangi antrean kendaraan dan mempercepat transaksi di jalan tol.Sebagai informasi, MLFF merupakan program modernisasi transaksi tol yang mulai digagas sejak 2018. Sistem ini dirancang menggantikan pembayaran berbasis kartu elektronik dengan teknologi yang memungkinkan kendaraan tetap melaju tanpa harus berhenti saat memasuki jalan tol.Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum Ni Komang Rasminiati mengatakan pemerintah masih melakukan kajian terhadap implementasi MLFF.Selain aspek regulasi dan operasional, pemerintah juga melakukan pendetailan teknis untuk memastikan sistem dapat berjalan dengan baik di ekosistem jalan tol Indonesia."Tahap ini kita lagi melakukan pendetailan penyiapan untuk rencana uji coba terhadap sistem ini, apakah bisa diaplikasikan terhadap ekosistem jalan tol di Indonesia," kata Komang.Sementara itu, Pengamat Transportasi sekaligus Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Danang Parikesit, menilai penerapan teknologi baru di jalan tol perlu dikaitkan dengan kemampuan badan usaha jalan tol dalam memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM).Menurut Danang, terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pencapaian standar tersebut. Salah satunya adalah keberadaan kendaraan over dimension over load (ODOL) yang berpotensi mempercepat kerusakan jalan."SPM harus dipenuhi apabila kapasitas badan usaha jalan tol memungkinkan mereka mengelola variabel-variabel yang memengaruhi pemenuhannya. Selama badan usaha tidak mampu melarang kendaraan ODOL masuk ke jalan tol dan kendaraan tersebut menyebabkan kerusakan dini, maka mereka dapat memiliki alasan tidak dapat memenuhi SPM," kata Danang.Ia menambahkan, penerapan MLFF akan berdampak pada berbagai aspek operasional jalan tol, mulai dari proses transaksi hingga pengelolaan layanan pendukung seperti area istirahat. Karena itu, menurutnya, pengujian yang menyeluruh diperlukan agar perubahan sistem pembayaran tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan.