Jakarta - Tren nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat biasanya menjadi angin segar bagi komoditas ekspor. Namun, hal ini tak berlaku optimal bagi komoditas udang.Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sakti Wahyu Trenggono mengakui struktur industri udang dalam negeri dari hulu ke hilir ternyata masih terkendala. Trenggono juga mengakui harga udang di beberapa wilayah turun, padahal udang termasuk komoditas dengan nilai ekspor cukup tinggi."Kenapa ketika nilai tukarnya tinggi? Kemudian kenapa harga udang kita di beberapa titik ya, tidak semua sebenarnya, itu mengalami penurunan? Memang benar, kita masih lemah semua," ujar Trenggono dalam rapat kerja Komisi IV DPR RI, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026).

Trenggono menjelaskan industri benih udang (hatchery) dalam negeri belum memadai. Ia menyentil akademisi dan lembaga riset nasional untuk lebih melakukan penelitian."Selalu saya sampaikan kepada teman-teman di perguruan tinggi, khususnya di IPB, Brawijaya, Undip, untuk coba lho, dilakukan satu penelitian-penelitian. Juga kepada BRIN. Mudah-mudahan BRIN segera menangkap juga, karena kepala BRIN nya sekarang kan dari IPB. Nah, hatchery itu juga persoalan," tambah Trenggono.Selain masalah pembenihan, ia mengungkapkan penyebab lainnya, yakni ketergantungan pakan yang bersumber bahan baku dari impor. Substitusi bahan baku melalui tepung ikan pun belum dapat berjalan dengan baik."Pakan ini boleh dibilang, saya bisa nyebut 100% pakan itu masih bahan bakunya impor, sudah sekian tahun KKP lahir, 26 tahun sudah, tetapi kemudian substitusi bahan baku, bahan baku tepung ikan sebagai satu komponen utama sampai hari ini belum bisa dilakukan dengan baik. Ini kita langsung bergerak melakukan transformasi," jelas Trenggono.