Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat melemah hingga menembus level Rp 18.200. Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengakui gejolak kurs belakangan ini memukul sektor UMKM, terutama yang bergantung pada bahan baku impor."Kita juga harus mengakui bahwa tentunya ada impact di beberapa sektor-sektor tertentu terhadap UMKM kita," ujar Maman di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2026).Menurut Maman, pelemahan mata uang Garuda ini sudah mulai dirasakan oleh para pelaku usaha, salah satunya industri tahu dan tempe. Para perajin serta pedagang tahu dan tempe langsung terdampak lantaran bahan baku berupa kedelai berasal dari impor.
"Sampai saat ini sih kalau kita lihat, ya yang sekarang muncul kan pedagang tempe, tahu kita, karena memang ketergantungan kita terhadap bahan baku impor kedelai memang tinggi di situ. Yang kedua, kalau beberapa waktu yang lalu kan plastik, namun sekarang kan sudah kembali lagi tren," tambah Maman.Meski mengakui adanya tekanan pada sektor tahu dan tempe, Maman meminta masyarakat dan pelaku usaha tidak panik berlebihan. Ia menyebut pergerakan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah menunjukkan tanda-tanda pemulihan sejak kemarin.Maman menyebut Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersama Bank Indonesia (BI) terus bergerak cepat melakukan langkah-langkah agar menjaga stabilitas dan mendorong penguatan rupiah."Artinya begini, kita sadar, kita mengerti dan memahami bahwa tentunya ada impact, namun yang terpenting kami pemerintah tidak akan tinggal diam, dan akan terus melakukan mitigasi untuk mencegah dan mengantisipasi dampak-dampak yang memang bisa berdampak kepada UMKM kita," imbuh Maman.Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyampaikan pemerintah bakal mengucurkan subsidi untuk menekan harga kedelai yang selama ini masih impor. Zulhas mengatakan subsidi kedelai ini diberikan sebesar Rp 2.000 per kilogram (kg) untuk 250.000 ton tahap pertama.Keputusan tersebut merupakan arahan langsung presiden agar kebutuhan pokok masyarakat tetap terjaga di tengah perkembangan ekonomi global dan pergerakan nilai tukar."Nah, oleh karena itu tadi kita putuskan disubsidi Rp 2.000 per kilogram. Pemerintah menyediakan untuk 250.000 ton pertama melalui Bulog," ujarnya usai melakukan Rapat Koordinasi Pembahasan Perkembangan Harga Komoditas Pangan di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2026).Simak juga Video: Kapan Usaha Pedagang Tahu-Tempe Bisa Pulih? Ini Jawaban Purbaya








