Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memaparkan realisasi penggunaan Penyertaan Modal Negara (PMN) yang diterima pada 2024 dan 2025. Menurut Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin, dana tersebut telah dan sedang digunakan untuk pengadaan sarana KRL Jabodetabek.Bobby menjelaskan, PMN tahun 2024 sebesar Rp 2 triliun telah diterima KAI pada 5 Januari 2025 dan diteruskan kepada PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) pada 25 Maret 2025. Seluruh dana tersebut telah terserap 100% untuk kebutuhan proyek pengadaan KRL.Sementara itu, PMN tahun 2025 sebesar Rp 1,8 triliun diterima KAI pada 31 Desember 2025 dan diteruskan ke KCI pada 20 Mei 2026. Hingga saat ini, dana yang telah digunakan mencapai Rp 744,46 miliar.
"Kami menerima ini di 31 Desember 2025 senilai Rp 1,8 triliun dan kami telah meneruskan ke PT KCI tertanggal 20 Mei 2026, di mana telah ter-spending yaitu Rp 744,46 miliar itu kepada PT INKA," ujar Bobby dalap Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (8/6/2026).Menurut Bobby, dana tersebut telah dibayarkan kepada PT INKA untuk mendukung penyelesaian proyek pengadaan sarana KRL. Sisa dana sekitar Rp 1,05 triliun akan dicairkan secara bertahap mengikuti progres pengerjaan kereta."Sehingga sisa saldo yang ada untuk PMN 2025 ini senilai Rp 1,055 triliun yang proyeksinya akan kita spending sesuai dengan progress dari penyelesaian 9 trainset yang sudah ada di PT INKA sesuai dengan recovery schedule-nya yaitu diharapkan penyelesaiannya itu di bulan September tahun 2026," tuturnya.Bobby menambahkan, pengadaan sarana KRL Jabodetabek dibutuhkan seiring meningkatnya jumlah penumpang yang naik 4% tiap tahun dan diproyeksi tembus 437 juta pengguna pada 2030.Di sisi lain, sebagian besar armada KRL yang saat ini beroperasi merupakan kereta bekas impor dari Jepang yang telah berusia lebih dari tiga dekade. KAI mencatat terdapat 780 unit KRL eks JR 205 dan 128 unit eks Tokyo Metro yang berusia antara 34 hingga 41 tahun.Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang sekaligus mengganti armada yang memasuki masa konservasi, KAI bersama PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menjalankan proyek pengadaan sarana KRL senilai Rp 9,18 triliun."Proyek pengadaan sarana KRL Jabodetabek ini, total nilai proyek itu Rp 9,18 triliun, di mana terdiri, pembiayannya terdiri dari dukungan pemerintah melalui PMN Rp 5,3 triliun 58%, kemudian pengadaan dengan kas internal PT KCI sekitar Rp 0,19 triliun dan kredit sindikasi pinjaman perbankan sebanyak Rp 3,69 triliun," ujarnya.Proyek tersebut mencakup pengadaan KRL baru dari dalam negeri dan impor hingga program retrofit atau peremajaan armada. Rinciannya Rp 3,8 triliun untuk pengadaan KRL baru dengan INKA, Rp 2,45 triliun pengadaan KRL baru impor dan pengadaan KRL retrofit dari CRRC, dan Rp 2,05 triliun untuk pengadaan KRL baru dari INKA."Rp 9,18 triliun ini itu ada 5 step, 5 stagingnya, satu adalah pengadaan KRL baru sebanyak 16 trainset, ini dengan PT INKA senilai Rp 3,8 triliun, kita telah melakukan adendum terhadap kontraknya di Desember 2025. Kemudian ada 2 pengadaan dengan CRRC Tiongkok, itu senilai Rp 0,83 triliun plus dengan Rp 2,2 triliun 11 trainset," tutup Bobby.










