MAJALENGKA, KOMPAS.com - Rencana kerja sama antara Indonesia dengan Amerika Serikat untuk memanfaatkan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sebagai "bengkel internasional" pesawat Hercules/C-130 memiliki risiko keamanan nasional yang besar ketimbang keuntungan secara finansial, kata pengamat.
Pakar penerbangan dari Aviatory Indonesia, Ziva Narendra, mengatakan, Bandara Kertajati beroperasi penuh dengan konsep penerbangan sipil dan tidak mempunyai kapasitas pertahanan maupun militer yang memadai.Sementara, lebih dari 90 persen populasi pesawat Hercules/C-130 yang beroperasi di seluruh dunia merupakan varian berspesifikasi militer yang tentunya harus mendatangkan personel militer atau kontraktor militer asing.
Baca juga: Bandara Kertajati Akan Jadi Bengkel Hercules, Berawal dari Niat Menhan AS
"Di situlah muncul risiko keamanannya," kata Ziva.
Anggota Komisi I DPR, TB Hasanuddin, juga meminta pemerintah berhati-hati terkait kerja sama tersebut.












