Jakarta - Presiden Prabowo Subianto hari ini akan menghadiri rapat paripurna DPR RI. Rapat beragendakan penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) sebagai Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2027.Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengatakan pembacaan KEM-PPKF oleh seorang presiden merupakan tradisi baru. Pada tahun-tahun sebelumnya, pembacaan hanya dilakukan oleh Menteri Keuangan atas nama presiden."Pembacaan KEM-PPKF biasanya selama ini dibacakan oleh Menteri Keuangan atas nama Bapak Presiden. Jadi kalau hari ini dibacakan langsung oleh Bapak Presiden, itu menjadi sebuah tradisi baru," kata Misbakhun kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

KEM-PPKF ini akan menjadi putaran awal untuk pembahasan RAPBN 2027. Nantinya KEM-PPKF itu akan berisi mengenai beberapa asumsi makro dalam sebuah range mulai dari pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, harga minyak mentah Indonesia (ICP), hingga lifting minyak dan gas bumi."Ini adalah putaran awal RAPBN kita tahun 2027. Ini adalah sebuah tradisi baru (dibacakan presiden) dan tentunya begitu tradisi baru ini, orang ingin memperhatikan dengan serius apa yang akan menjadi concern Bapak Presiden di dalam KEM-PPKF ini," ucap Misbakhun.Terkait apakah ada hubungannya dengan kondisi pelemahan rupiah, Misbakhun memang melihat ada perhatian serius dari presiden sehingga ia ingin menyampaikan langsung secara luas kepada masyarakat."Saya melihat tidak dalam satu aspek pelemahan rupiah itu membuat Bapak Presiden harus membacakan sendiri ke KEM-PPKF, tetapi saya melihat bahwa ada sebuah concern yang serius dari Bapak Presiden bahwa APBN itu mulai dari awal menjadi sebuah policy yang sungguh-sungguh untuk disampaikan kepada masyarakat secara luas yang harus dilakukan secara langsung oleh Bapak Presiden," jelas Misbakhun.Menurut Misbakhun, ketidakpastian ekonomi adalah sebuah keniscayaan yang harus diperhatikan dan dikelola dengan baik oleh pemerintah. Termasuk peluangnya dan hal-hal yang harus diantisipasi secara jangka pendek dan jangka menengah."Situasi geopolitik saat ini memberikan sebuah indikator-indikator bahwa ketidakpastian itu terjadi setiap saat dan tugas kita adalah bagaimana ketidakpastian itu dimanage dengan baik, sebagai salah satu faktor yang harus diperhatikan ketika kita mengambil policy di bidang ekonomi," imbuh Misbakhun.Sementara itu, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menilai kehadiran Prabowo dalam agenda tersebut memberi makna untuk menjawab keraguan pasar terhadap kondisi fiskal negara."Keraguan itu akan dijawab presiden pada forum paripurna kali ini. Presiden akan sampaikan apa yang kita alami saat ini tidak terlepas dari geopolitik, situasi global yang sedemikian rupa, bahkan kita jangan pernah berharap suku bunga Amerika akan turun, dan saya berharap BI hari ini dalam rapatnya bisa naik di 50 atau 75 basis poin untuk tahan gejolak rupiah kita. Presiden akan berikan respons soal ini," katanya.Simak juga Video 'Ketua DPR Sebut Rapat Paripurna Kali Ini Spesial karena Dihadiri Presiden':