KOMPAS.com - Pada 21 Mei 1998, Indonesia berada di titik nadir. Nilai tukar rupiah terpuruk, inflasi melonjak, bank-bank limbung, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah nyaris hilang.
Di tengah situasi itu, tampuk kepemimpinan nasional beralih kepada BJ Habibie, seorang insinyur penerbangan yang bahkan sempat diragukan karena tidak berasal dari kalangan ekonom.Namun dalam waktu kurang dari satu setengah tahun, situasi berbalik. Rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp 16.800 per dollar AS menguat hingga sekitar Rp 6.500 per dollar AS.
Ekonomi yang pada 1998 terkontraksi 13,1 persen kembali tumbuh positif 0,79 persen pada 1999.
Habibie berhasil memperkuat Rupiah dalam total 17 bulan, yakni dari Mei 1998 hingga Oktober 1999, nyaris seluruh masa jabatannya sebagai presiden.
Baca juga: BJ Habibie Kuatkan Rupiah dari Rp 17.000 ke Rp 6.500 dalam 17 Bulan, Bisakah Terulang?














